KKN Desa Penari


Chanel Youtube Raditya Dika

Cerita ini diambil dari tweet dari akun twitter SimpleM81378523. Menurut SimpleMan, sang narasumber tidak ingin cerita ini di publish ke medsos. Tapi SimpleMan meyakinkan narasumber karena dia berpikir kalau cerita ini memiliki banyak pelajaran yang mungkin bisa dipetik. Dan akhirnya, narasumber memberi ijin dengan satu syarat. Syaratnya adalah semua yang berhubungan dengan cerita seperti, nama kampus, fakultas, desa dan latar cerita untuk di samarkan.  Setelah si penulis dan nara sumber sepakat akan syarat itu, SimpleMan mulai bercerita.

Tahun 2009 akhir, Semua angkatn 2005/06 sudah hampir merampunkan persyaratan untuk mengikuti KKN yang di lakukan dibeberapa desa sebagai syarat lanjutan untuk tugas skripsi. Tapi ada satu anak yang tampak begitu gugup dan menyendiri. Sampai panggilan telepon itu memudarkan lamunnya. Widya, begitu anak-anak lain memanggilnya. "aku sudah dapat tempat untuk KKN" katanya. Singkat cerita, Ibunya WIdya menanyakan ke Widya kalau tidak ada trempat lain selain kota B. Widya menjelasskan kalau sudah dilakuakn observasi dan ibunya pun menyetujui. Berangkatlah Widya dan teman-temannya ini ke kota B. Saat mereka berangkat, Wahyu temannya salah satu temannya bertanya "naik apa kita nanti?" Lalu Nur menjawab "Elf mas" "Sampai desa naik mobilnya?" tanya wahyu. Nur pun menjelaskan kalau mereka akan naik mobil hanya sampai jalur hutan dan nantinya mereka dijemput. Mendengar itu, Widya bertanya ke Ayu apa desanya gak bisa di masuki mobi. Ayu hanya menggelengkan kepala dan menambahkan kalau tempatnya dekat hanya 45 menit dari jalan besar. Sesampainya mereka di jalam masuk hutan. Setelah menunggu hampir setengah jam, terlihat cahaya mendekat dari jauh. Lalu Nur dan Ayu mengatakan kalau mereka yang mengantar sambil menunjuk ke 6 lelaki paruh baya dengan motor butut. "Cuk, sepedaan tah" kata wahyu. Kata-kata yang di anggap biasa di kota S, di tanggapi lain oleh laki-laki itu. Wajah mereka tampak tidak suka dan sinis tajam melihat wahyu dan hanya Widya saja yang memperhatikan itu.

Karena gerimis, jalanan berlumpur, dan ditambah denan medan tanah naik turun membuat Widya merasa perjalanan itu sudah memakan waktu 1 jam. Ditengah perjalana itu, Widya mendengar suara alunan gamelan. Dan sampailah mereka d desa yang di tuju. Saat sampai di desa tersebut, disambutlah mereka dengan kepala Desa itu. Lalu pak Prabu memperkenalkan diri dan bercerita tentang sejarah desa itu. Ditengah ia bercerita, Widya memotong dengan pertanyaan. kenapa desanya sepelosok ini. Pak Prabu pun menjawab kalau hanya butuh waktu 30 menit untuk sampai ke jalan besar. Widya yang sedang bingung di tegur oleh Ayu. Disitulah Widya merasakan ada yang aneh. Saat berada di kamar, Widya menanyakan lagi apa maksud dari Pak prabu dan Ayu membantah kalau lama perjalanan tak selama yang dikatakan oleh Widya. "gini, kamu dengar tidak, di jalan tadi ada suara orang yang memainkan gamelan?" tanya Widya lagi. Dan sekali lagi Ayu menjawabnya dengan logika. Berbeda dengan Ayu, Nur memandang Widya dengan ngeri dan berkata " mbak, tidak mungkin ada desa lain disini, tidak mungkin ada acara di dekat sini, kalau kata orang jaman dulu, kalau dengar suara gamelan, itu pertanda buruk" Ayu pun lagsung menuding Nur untuk tidak berbicara yang tidak-tidak. Ayu pergi meninggalkan Widya dan Nur. Saat itu, Nur berkata kalau dia juga mendengar suara gamelan itu bahkan dia juga melihat kalau ada yang menari di jalan tadi. Nur pun menangis dan setelahnya mereka berjanji untuk tidak mengungkit masalah ini lagi agar tidak tersebar ke teman-teman yang lain. Keesokan harinya, rombongan sudah berkumpul untuk berkeliling desa.

Sampailah mereka di pemberhentian pertama. Sebuah makam desa. Setiap niisan yang ada di pemakama ini ditutupi oleh kain hitam. Pemakamannya sendiri dikelilingi ileh pohon beringin dan di setiap pohon itu terdapat batu besar di sampingnya dan lengkap dengan sesajen di depannya. Saat Widya menanyakan alasan nisan di tutupi oleh kain hitam dan Pak prabu menjelaskan, Wahyu dan Anton malah tertawa kecil. Saat pak Prabu selesai menjelaskan, salah satu dari Wahyu dan Anton malah bercanda "orang bodoh juga bisa membedakan kuburan dan lapangan bola pak" Pak Prabu yang tadinya tersenyum penuh candaan, tiba-tiba saja diam dan raut wajah berubah dan tak tertebak. "Semoga saja, kalian tahu yang di omongkan ya" kata pak Prabu ke mereka. Widya merasakan kalau kaliamt pak Prabu itu seperti penekana yang mengancam dan sontak saja Bima langsung merespon dengan meminta maaf, namun Wahyu dan Anton malam memilih untuk diam.

Tempat sejanjutnya adalah Sinden (kolam, tempat air keluar dari tanah). Hari sudah siag Widya dan Ayu sudah memetakan semua yang pak Prabu tunjukan dari yang paling diutamakan sampai yang paling terakhir di kerjakan. Namun, tetap saja, selama perjalanan Widya menemukan banyak keganjilan. Keganjilan itu seperti banyaknya sesajen yang diletakkan di atas tempeh, lengkap denga bunga dan makanan yang diletakkna disana, ditambah bau kemenyan. Saat di Sinden, Nur ijin untuk kembali ke rumah karena badannya tidak enak dan dengan sukarela Bima mengantarkan, jadi observasi anya dilakukan oleh 4 orang. Sampailah di titik yang paling menakutkan. Tipak talas. Pak Prabu menjelaskan, rombongan anak-anak di larang keras untuk melintasi batasan dengan setapak jalan yang dibuat serampang, di kiri dan kanan ada kain merah lengkap di ikat oleh janur kuning layaknya pernikahan. Ayu penasaran dan bertanya ke Pak prabu, namun, Pak Prabu terdiam lama dan menjawab kalau itu hutan belantara takut saja kalua kesana hilang, tersesat, dan hal yang tak diinginkan. Dengan jawaban pak Prabu tadi membuat Widya semakin yakin itu bukan jawaban yang sebenarnya.

Tweet ini sangat panjang dan sempat juga menjadi konten di chanel Raditya Dika. Kamu bisa melihat cerita ini lebih lanjut di chanel youtub Raditya Dika atau bisa baca di Tweetnya SimpleMan. Jangan lupa untuk bahagia hari ini

Komentar

Postingan Populer