Malam Satu Suro

Satu Suro adalah hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Sura atau Suro di mana bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender hijriyah, karena kalender Jawa yang diterbitkan Sultan Agung mengacu penanggalan Hijriyah (Islam). Satu suro biasanya diperingati pada malam hari setelah magrib pada hari sebelum tanggal satu. Hari ini dianggap kramat oleh masyarakat Jawa terlebih lagi bila jatuh pada jumat legi. Tradisi saat malam satu suro pun bermacam-macam tergantung dari daerah mana memandang hal ini. Seperti, Tanpa Bisu atau mengunci mulut yaitu tdak mengeluarkan kata-kata selama ritual ini. Tradisi lainnya yatu Kungkum atau berendam di sungai besar, sedang atau sumber mata air tertentu, yang paling mudah ditemukan di Jawa khususnya di seputaran Yogyakarta adala Tirakatan (tidak ditur selama suntuk) dengan tuguran (perenungan diri sambil berdoda) dan pagelaran Wayang Kulit. Di antara tradisi itu ada juga sebagian masyarakat yang menggunakan malam satu suro sebagai saat yang tepat untuk melakukan ruwatan. Dibalik dari itu, ada mitos yang tersebar di masyarakat antara lain, sebagai berikut.

1. Kembalinya Arwah Leluhur ke Rumah

Sebagian masyarakat jawa pada masa lalu lebih sakral lagi dalam menanggapi datangnya pergantian  tahun hijriyah. Banyak dari mereka yang meyakini, bahwa dalam malam satu suro, arwah leluhur yang telah meninggal dunia akan kembali dan mendatangi keluarganya di rumah. Bukan hanya itu saja, bahkan ada beberapa orang menambahkan peristiwa lebih seram lagi dimana mereka meyakini jika pada malam satu suro arwah dari orang-orang yang menjadi tumbal pesugihan akan dilepaskan dan diberi kebebasan pada malam ini sebagai hadia pengabdiannya selama setahun penuh.

2. Dilarang Keluar Rumah

Dimalam suru, kebanyakan oarang dilarang keluar rumah. Hal ini berkaitan dengan no 1. Orang mengajarkan anak-anaknya agar tidak keluar rumah bila tidak ingin bernasib sial, lebih baik mendoakan leluhur atau diri sendiri kepada Tuhan YME. Khusus di Solo, Kebanyakan orang malah keluar rumah. Warga Soloraya lebih ingin menyaksikan kirab budaya, salah satunya kebo bule diarak keluar keraton Surakarta.

3. Saat Kirab di Keraton Harus Jalan Kaki dari Rumah

Dahulu memang belum ada kendaraan, maka dari itu kita harus menempuh perjalanan menuju kirab budaya yang diadakan dari keraton harus jalan kaki. Setelah jaman yang serba mudah untuk transportasi, tapi orang jaman sekarang khususnya warga Soloraya masih ada yang jalan kaki. Mereka percaya, kalau dengan berjalan kaki akan membawa keberkahan sendiri dalam menikmati malam suro.

4. Tidak Diperbolehkan Melakukan Kegiatan Di Malam Suro

Banyak orang yang juga meyakini kalau banyak melakukan kegiatan saat malam satu suro juga dikaitkan dengan kesialan. Masyarakat luas yang nekat melakukan tidak meraih hasil yang diinginkan. Apabila nekat, melakukan hal itu maka tidak akan mendapatkan hasil.

5. Malam Satu Suro Adalah Lebaran Para Makhluk Gaib

Sebagian masyarakat pada masa lalu mempercayai jika malam satu suro merupakan lebaran bagi makhluk gaib. Mitos ini kerpa dikaitkan dengan adanya penampakan serta gangguan makhluk halus di malam itu. Hingga saat ini mitos ini pun masih dipercayai oleh beberapa orang. Bahkan ada beberapa orang yang menganggap bahwa di bulan suro terdapat banyak kesialan dan bencana yang akan menimpa manusia.  Karena itulan banyak tradisi malam satu suro seperti ruwatan untuk buang sail.

Jadi itu beberapa mitos yang beredar tentang Malam Satu Suro. Jangan lupa untuk bahagia hari ini.

Komentar

Postingan Populer